Info Terbaru

Rabu, 23 April 2014

PERTEMUAN KITA YANG KEDUA: WANITA, WANITA, CERMIN DAN SEEKOR KATAK

Pringadi Abdi Surya
HUJAN



Aku akan dikutuk

Menjadi seekor katak

Di dekat kolam, dan menunggu

Ciuman dari Tuhan





Galah Denawa
TAMENGKU, DANDANKU


Aku harus dandan, aku harus cantik
Dengan begitu, kau tak akan mampu
Membuka pintuku
Membangunkan cinta
Yang mendengkur dalam diriku

Aku harus dandan, aku harus cantik
Dengan begitu, kau akan sibuk
Menghirup bunga-bunga di halaman tubuhku

Ketika aku cantik
Kau akan berlarian menangkap kupu-kupu yang berhamburan
Dari jendela wajahku dan kau, telah mabuk
Kau terus sibuk melayani dirimu

Kau lupa

Dengan cantik
Dengan dandan
Cintaku tetap mendengkur di dalam
Pintuku tetap utuh, pintu keperawananku
Tak pernah robek meski kau gergaji berkali-kali
Bergelayutan di sangkar pinggulku





Anis Sayidah
DI KAMAR MANDI


Suara air yang keluar dari keran itu seperi hentakan masa silam.
Foto retak ibu dengan bapak, tamparan muka atau bekas
Jahitan di dahi muka.

Kaki telanjangku terseret ke lubang pembuangan.
Meninggalkan bak yang yang selalu terisi kekosongan.
Cermin yang meminta kesepian digantikan.
Sabun mandi yang menggeram harum kesakitan.
Sampo yang merindukan kasar dari pasir
Di setiap helai rambutku.

Bening tubuh kecilku, tak pernah benar-benar bersih
Keluar dari ruang kecil ini.
Selalu ada saja luka dan nyeri yang tak lolos terbilas lagi.

Berbeda ketika aku memasuki tubuhmu,
Setelah itu, aku menemukan diriku bersih sama sekali.




 
Anis Sayidah
KETIKA AKU BERCERMIN


Ketika aku bercermin
Aku hanya melihat sisa make-up sepulang kerja.
Inilah masa depan itu,
Lipstik murah di bibir, bedak luntur
Dan alis mata yang meruncing terukir.
Sisa parfum yang membaur dengan keringat.
Aku melihat diriku dalam
Jam diet, jus sayuran dan jadwal salon.
Aku jadi sering mengumpulkan struk pembelanjaan
Dan berburu diskon pakaian.

Ketika aku mulai berdiri dan kembali bercermin
Aku hanya melihat sisa diriku yang dahulu.

: tubuh mungil dengan pita di rambut,
Berseragam mengenakan sepatu pertama dari ibu
Dengan kaus kaki berwarna merah muda
Bergambar boneka.

Sayang, bukan kaki kecil yang menancap disitu
Sekarang, melainkan kaki yang sudah dicerabuti bulunya
Dengan kuku hitam, dikikis habis
Oleh caci-maki, terbungkus stocking berlubang.

Aku tersenyum ke arah bayanganku di seberang kaca.
Namun bayanganku malas membalas,
Ia meringis menahan sesuatu dalam matanya
Tapi tak ada air mata yang bisa diteteskannya.




 
Jaroslav Seifert
FILSAFAT


Ingatlah yang dikatakan para filosof bijaksana:
Hidup cuma kesementaraan waktu.
Yang abadi
Kapan pun ketika kau menunggu kekasihmu.

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Senat Mahasiswa FISIP UIN SGD | Editing Design By Ivan Latifan Fadila | Thanks For OddThemes