Tahukah kau anakku, dewa yang bernama dewa Wisnu
Dia tertidur di atas samudera dan kita adalah bagian dari mimpinya..
Memahami sastra saya kira tidak seperti menyelesaikan permainan puzzle, di mana kita fokus pada bagian-bagian terpenting untuk memecahkan teka-teki dalam permainan itu. Memahami puisi misalnya, seseorang dibikin pusing dengan diksi atau kata-kata yang bercampur aduk sehingga maknanya menjadi kabur lalu mengaduk-aduk logika. Saat seseorang membaca (memahami) puisi, mestinya melihat puisi itu secara keseluruhan. Membaca, memahami puisi itu, tidak menolak perasaan-perasaan yang dibangun oleh si penulis, merelakan ke mana kata-kata itu membawa kita, merelakan ke mana kata-kata itu memindahkan kita.
Seperti cerita di atas, seorang ayah meminta kepada anaknya segera tidur, dia membisikkan tentang seorang dewa yang tertidur di atas samudera, kemudian dewa itu bermimpi dan sebenarnya kita adalah bagian dari mimpinya. Saya rasa, anak itu akan bertanya-tanya apa dewa itu ada, apa dewa itu masih bermimpi, apakah teman-temannya sebenarnya tidak ada, apakah sekolahnya juga tidak ada, kucingnya tidak ada, kamarnya tidak ada, seluruh pertanyaan mengalir memenuhi benak anak itu, apakah dewa itu tidurnya terlentang, apakah dewa itu panjang, apakah langitnya penuh bintang-bintang dan akhirnya dia tertidur. Itu yang saya sebut merelakan kata-kata membawa kita, merelakan kata-kata memindahkan kita.
Pertemuan Kelas Sastra pada hari kamis kemarin, bagi saya cukup menyenangkan. Yang hadir ternyata lebih banyak perempuan dibanding laki-lakinya. Bukan karena mereka perempuan dan membangkitkan naluri-naluri saya sebagai lelaki, namun, para penulis perempuan khususnya di UIN sangat-sangat jarang.
Namun di samping itu, saya khawatir mahasiswa dan mahasiswi telah kehilangan nila-nilai estetis, mahasiswa dan mahasiswi sebagai manusia terpilih dari kelompoknya masing-masing, sebagai manusia terpelajar, telah kehilangan perasaan-perasaan agung, perasaan-perasaan yang membantu mencerna persoalan-persoalan manusia.
Kini mahasiswa dan mahasiswi telah diorientasikan untuk lulus dengan sebuah gelar demi bisa bekerja di sebuah perusahaan-perusahaan tertentu. Miris, perguruan tinggi tak lagi menjadi harapan kemajuan dan kestabilan zaman. Mereka yang keluar masuk perguruan tinggi, bukan lagi manusia terpilih sebagai manusia yang mewakili manusia-manusia lain yang tidak sempat mengenyam dunia perkuliahan.
Nilai-nilai estetis itu membantu seseorang mengambil keputusan secara bijaksana, secara kemanusiaan. Mahasiswa atau mahasiswi yang tidak masuk matakuliah tertentu tiga kali berturut-turut, selanjutnya ga boleh ikut misalnya. Secara prosudural itu benar, secara peraturan itu benar, namun secara kemanusiaan itu tidak benar. Bagaimana keluarganya, bagaimana biaya mereka yang sudah lunas satu semester, bagaimana dengan hak mahasiswa itu belajar di kelas, saya kira ini tidak benar. Maka benar secara prosedural, benar menurut aturan, bukan “benar” redaksi katanya,tapi "betul". Sebab "benar" terlalu suci disandingkan dengan kata “prosedural” dan “aturan” yang seperti tadi. Tak berlebihan kiranya kita menyebut dosen yang seperti itu dengan sebutan Si Betul.
Saat seorang dekan mengatakan bahwa mahasiswa FISIP mesti berbeda, mesti menjadi agen perubahan dan menjadi sosok pemimpin. Itu benar. Namun jika dalam praktiknya dekan itu misalnya tidak menunjukan nilai-nilai akademis, dekan itu tidak menonjolkan sisi kebijaksanaan sebagai pemimpin dan dekan itu main urat ketimbang mengajak berdialog ketika ada persoalan, maka itu jadi tidak benar, tapi betul. Contoh, setiap mahasiswa yang gondrong dipelototin, ditunjuk-tunjuk, diancam akan dikeluarkan jika tidak segera potong rambut tanpa ada obrolan secara akademis, bijaksana dan profesional. Dekan yang seperti itu, bukan dekan yang benar saya kira, tapi dekan yang betul. Itu yang saya maksud bagaimana menyandingkan antara kata benar dan betul.
Nilai-nilai estetis seperti itu saya takut akan hilang di jantung-jantung mahasiswa dan mahasiswi sekarang. Khawatir, setelah lulus dari perkuliahan, mahasiswa atau mahasiswi yang tidak tertanam nilai-nilai estetis dalam dirinya akan membentuk karakter seperti dekan tadi contohnya. Maka, bahasa menjadi penting bagi siapapun yang singgah di dunia pendidikan. Sebab yang mahal dan yang menjadi simbol dari manusia terpelajar adalah menjelaskan, bukan gelar. Saat di masyarakat, saat ada permasalahan kita tidak akan memaparkan teori ini dan teori itu, tapi kita akan menjelaskan mengapa begini dan mengapa begitu.
Lagi-lagi, letak masalahnya saya rasa dari bahasa itu sendiri. Bisa saja dekan itu tak tahu bagaimana cara mengungkapkan dan menggunakan bahasa yang tepat. Untuk itu, saya mengaharap kelas sastra ini bisa jadi forum yang mampu merangkul persoalan-persoalan bahasa itu sendiri dan meletakkannya dengan penuh kemesraan, pelan-pelan menjadi sebuah penyadaran bagi yang mengikutinya. Siip...
Oleh : Galah Denawa
Mahasiswa Jurusan Sosiologi
Staff Ahli Bidang OIahraga Dan Seni Senat Mahasiswa FISIP UIN SGD


Posting Komentar