“Tuan Pendek masih menduda, tetapi setiap hari Minggu ia membawa pulang anak lelakinya untuk menemaninya. Melihat bentuk badannya yang pendek dan nampak kesepian itu, para tetangga pun ingat semua apa yang yang telah dialami Tuan Pendek, bahkan mereka bisa mengerti mengapa Tuan Pendek tetap bertahan hidup sendiri.”
Wanita itu tujuh belas senti lebih tinggi daripada suaminya. Seratus tujuh puluh lima senti tingginya, terlalu tinggi bagi kebanyakan kaumnya, sehingga menyerupai bangau di tengah-tengah anak ayam.
Tinggi suaminya tidak lebih dari seratus lima puluh delapan senti, sehingga dijuluki si cebol di kampusnya. Ia hanya sejajar bagian bawah daun telinga istrinya.
Tentang postur mereka, si istri kurus kering dengan wajah mungil menyerupai kuwaci, tidak bercahaya; roman muka yang tidak menarik perhatian. Dada dan pantatnya rata seperti papan. Sedangkan suaminya, sebaliknya. Gemuk pendek seperti bola; padat berisi, penuh daging,dan berseri-seri. Semua bagian tubuhnya, baik betis, pantat, bibir, hidung, maupun jari-jarinya menyerupai bakso. Kulitnya lunak, bersinar kemerahan. Matanya bulat kecil, berbinar. Sedangkan mata istrinya, seperti kelereng usang, buram. Mereka nyata sekali berlawan. Tapi, mereka tak terpisahkan.
Suatu hari beberapa tetangga mengadakan pertemuan keluarga. Setelah minum sepuas-puasnya, seorang kakek meletakkan botol anggurnya yang kurus tinggi bersebelahan dengan kaleng kornet yang gemuk dan pendek. “Ini mengingatkan kalian pada siapa?” tanyanya. Sebelum ada yang menjawab, ia melanjutkan, “Wanita jangkung dan suaminya yang pendek di lantai bawah”.
Meledaklah tawa orang-orang yang hadir. Bahkan, tawa mereka berlanjut sepanjang acara makan malam.
Apa gerangan yang menyatukan suami istri itu? Hal itu menjadi misteri semua rumah tangga yang mendiami apartemen itu. Sejak pasangan suami istri ini menjadi penghuni apartemen itu, para penghuni lama mengawasi mereka dengan penuh rasa ingin tahu. Ada yang hanya bertanya-tanya dalam hati, tapi ada juga yang bergunjing. Beberapa orang tetangga yang tidak suka mencampuri urusan orang lain, hanya mengangguk saja kalau mereka bertemu.
Pada waktu hujan, suami istri itu keluar dengan sang istri yang jangkung membawa payung. Apabila ada sesuatu yang jatuh di tanah, sang suamilah yang memungut. Saat itu, mulailah ibu-ibu melambaikan tangan, saling memberi tahu, dan tertawa. Anak-anak pun tertawa mengikuti perilaku ibu mereka, sambil berteriak, “Tiang listrik dan bonsai!”
Suami istri itu pura-pura tidak mendengar, meski sebenarnya mereka menahan amarah. Barangkali karena itu hubungan suami istri itu dengan tetangganya menjadi dingin. Hal itu mempersulit tetangga yang benar-benar ingin tahu lebih banyak tentang mereka. Misalnya, bagaimana mereka bisa akur? Mengapa mereka kawin? Siapa yang biasa mengalah diantara mereka? Para tetangga itu hanya bisa menduga-duga.
Apartemen itu sebuah rumah bergaya lama, dengan ruangan-ruangan besar penuh sinar matahari, dan koridor-koridor lebar yang gelap. Bangunan itu berdiri di atas halaman yang luas dengan sebuah rumah kecil berfungsi sebagai pintu gerbang. Rumah kecil itu didiami seorang tukang jahit yang termasuk orang baik-baik, tetapi istrinya yang berlebihan energi suka singgah ke para tetangga menggunjing orang lain.
Ia tahu secara pasti tentang bagaimana para suami dan para istri bisa saling akur. Mengapa seorang ipar saling bertengkar. Siapa yang malas, siapa yang membanting tulang, dan berapa banyak gaji setiap orang. Apabila ia belum jelas mengenai sesuatu, maka tidak satu batu pun luput dibolak-baliknya untuk mendapatkan kebenaran. Dalam hal ini, dia memang ahli. Ia amati setiap percakapan, raut muka, bahkan isi pikiran seseorang bisa diceritakannya.
Hanya dengan hidungnya, ia bisa tahu rumah mana yang makan daging atau ikan. Dari situ ia bisa menarik kesimpulan tentang penghasilan seseorang.
Karena alasan ini dan itu, sejak tahun enam puluhan setiap kawasan perumahan memilih seorang ibu usil sebagai aktivis lingkungan agar orang-orang yang selalu ingin tahu urusan orang lain memperoleh kedudukan yang sah. Rupanya, bakat apa pun di dunia ini memperoleh tempat.
Meskipun istri tukang jahit itu tidak mengenal lelah mencari informasi, ia tidak berhasil mengungkapkan bagaimana pasangan aneh yang setiap hari lewat di depan matanya itu sampai kawin. Baginya ini misteri yang paling sulit dipecahkan, tapi justru menantangnya.
Berdasarkan pengalamannya, dengan memeras otak, akhirnya ia sampai pada kesimpulan yang masuk akal: salah seorang dari mereka, sang suami atau sang istri, pasti memiliki suatu kelainan jiwa. Kalau tidak, tidak mungkin ada orang yang kawin dengan seseorang yang sekepala lebih tinggi atau lebih pendek. Buktinya, setelah tiga tahun kawin, mereka belum juga memiliki anak. Para penghuni apartemen itu semua sepakat dengan hipotesis yang brilian itu.
Kenyataannya ternyata di luar dugaan.Istri penjahit itu merasa disangkal pendapatnya, hingga kehilangan muka ketika Nyonya Jangkung itu mulai kelihatan mengandung. Orang dapat melihat perutnya yang semakin besar dari hari ke hari. Apalagi jarang perutnya yang jauh dari tanah, kelihatan semakin nyata buncitnya.
Seakan tanpa perduli dengan rasa heran, rasa cemas, dan rasa malu para tetangga, Nyonya Jangkung melahirkan seorang bayi yang lucu. Waktu musim hujan atau panas, jika mereka keluar, Nyonya Jangkung yang menggendong bayi, sedangkan tugas membawa payung pindah ke Tuan Pendek. Lucu sekali, sang suami berjalan dengan susah payah di atas kakinya yang gemuk pendek, payung diangkat tinggi-tinggi agar selalu tepat di atas kepala istrinya.
Para tetangga tetap terpancing rasa ingin tahunya; sama besar saat pertama kali pasangan itu menjadi penghuni apartemen itu. Tapi suami istri itu membuat para tetangga hanya bisa menerka-nerka saja, mereka tidak dapat menemukan bukti yang dapat memperkuat terkaan mereka.
Istri penjahit itu mengatakan, “Mereka pasti memiliki sesuatu yang disembunyikan. Tapi, mengapa mereka harus merahasiakannya? Ah, hal ini pasti akan jelas dengan sendirinya pada suatu hari nanti. Tunggu dan lihat saja!”
Pada suatu malam ia sangat yakin mendengar suara sesuatu dibanting dari flat pasangan aneh itu. Berdalih untuk mengumpulkan uang sampah, ia bergegas mengetuk pintu flat mereka dengan keyakinan bahwa permusuhan mereka yang sudah lama tersembunyi akan mencapai puncaknya. Sungguh ingin ia melihat konfrontasi itu. Pintu terbuka, Nyonya Jangkung dengan tersenyum mempersilahkan masuk. Tuan Pendek pun tersenyum. Di lantai sebuah piring pecah. Itulah yang dilihat istri penjahit. Ia bergegas mengambil uang yang disodorkan dengan tetap penuh teka-teki terhadap apa yang terjadi tadi. Sebuah piring dibanting, tapi mereka bukannya kelihatan sedang bertengkar, malahan seperti menghadap lelucon saja. Alangkah anehnya!
Suatu ketika istri penjahit itu terpilih menjadi wakil penghuni apartemen itu. Ketika ia membantu polisi untuk memeriksa ijin tinggal para penghuni, akhirnya ia menemukan jawaban teka-tekinya. Ternyata, wanita jangkung dan suaminya yang pendek itu kedua-duanya bekerja di Lembaga Riset Departemen Industri Kimia. Sang suami, menjabat insinyur kepala, memperoleh gaji 180 yuan! Sedangkan sang istri, sebagai teknisi biasa laboratorium, memperoleh gaji kurang dari 60 yuan; dan ayahnya seorang pegawai pos yang bekerja keras dengan gajih rendah. Jadi, itulah sebabnya ia kawin dengan laki-laki yang jauh lebih pendek. Demi status, uang dan hidup enak. Tepat sekali!
Istri penjahit itu tanpa membuang-buang waktu lagi segera menyampaikan informasi murahan itu kepada semua wanita tua yang mengalami kejenuhan tinggal di apartemen. Akhirnya teka-teki itu terpecahkan, pikir mereka. Sekarang mereka tahu duduk perkaranya. Tuan Pendek yang kaya tidak sempurna sejak lahir. Sedangkan Nyonya Jangkung yang miskin menjadi seorang penyerobot uang. Ketika mereka membicarakan nasib mujur wanita jangkung yang sangat mirip dengan seekor kuda itu, kerap kali mereka menyatakan ketidaksenangannya, terutama istri penjahit itu.
Adakalanya nasib mujur berubah menjadi nasib malang. Pada tahun 1966, suatu malapetaka menimpa Cina. Perubahan besar-besaran juga memasuki kehidupan semua penduduk di rumah besar yang menyerupai mikrokosmos di dalam negeri.
Tuan Pendek, sebagai insinyur kepala, adalah orang yang pertama menderita. Flatnya diserbu, perabot rumahnya dikeluarkan. Ia digugat dan dikurung di lembaganya. Dan yang terburuk, ia dituduh menyelundupkan hasil-hasil risetnya keluar untuk ditulis di rumah pada malam hari, dengan maksud melarikan diri, bergabung dengan keluarganya yang kaya di luar negeri. Tuduhan gila-gilaan tentang pengiriman rahasia ilmiah kepada orang-orang kapitalis asing itu secara luas dipercaya pada zaman yang edan itu, sehingga masyarakat membuang akal sehatnya dan secara keji melontarkan tuduhan-tuduhan tak berdasar untuk menemukan seorang Hitler di tengah-tengah lingkungan mereka.
Lembaga itu tetap tidak mau melepaskan cengkraman mautnya terhadap insinyur kepala. Ia dicekam, dipukuli, ditekan dari segala sudut, dan istrinya diperintahkan untuk menyerahkan naskah yang belum pernah dilihat oleh siapapun. Tetapi tidak ada hasilnya. Kemudian seseorang mengusulkan diselenggarakan pertemuan untuk menggugat mereka berdua di halaman apartemen, dengan harapan mereka akan semakin tertekan karena rasa malu yang amat sangat. Apalagi usaha-usaha yang lain telah gagal. Barangkali cara ini akan membawa hasil.
Belum pernah apartemen itu menjadi ajang kegemparan seperti itu.
Pada siang hari, lembaga mengirimkan orang untuk mengirimkan tali yang diikatkan di antara dua pohon di halaman dan kemudian digantungkan sebuah poster dengan nama Tuan Pendek yang tercoret tercantum di dalamnya. Di dalam dan di luar halaman, mereka menempelkan slogan-slogan yang bersifat mengancam. Tembok-tembok ditempeli delapan belas poster yang menyebutkan semua kejahatan insinyur kepala itu. Oleh karena pertemuan akan diselenggarakan setelah makan malam, maka seorang tukang listrik dikirimkan untuk memasang empat buah bola lampu 500 watt.
Sekarang istri tukang jahit diangkat menjadi Ketua Komite Keamanan Lingkungan masyarakat, tokoh yang berkuasa. Ia merasa jadi orang penting, dan sekarang menjadi jauh lebih gemuk dari sebelumnya. Seharian ia sibuk memimpin ibu-ibu memasang slogan-slogan dan membuatkan teh orang-orang revolusioner dari lembaga. Kabel-kabel untuk penerangan dipasang melalui rumah kecilnya yang berfungsi sebagai pintu gerbang. Kelihatan seakan-akan ia sedang merayakan suatu perkawinan!
Setelah makan malam istri penjahit itu mengumpulkan semua penduduk di halaman yang berpenerangan semeriah gelanggang olah raga di malam hari.
Istri penjahit memimpin sebuah kelompok yang mengenakan ban lengan merah. Kelompok itu menyeramkan dan dihormati khalayak. Mereka bertugas menjaga pintu gerbang dan mencegah orang-orang luar untuk masuk.
Sekarang orang-orang dari lembaga yang mengenakan ban lengan meneriakkan slogan-slogan dan membawa masuk wanita jangkung dan suaminya yang pendek. Keduanya digiring ke atas panggung, dengan sang suami lehernya digantungi pelakat. Di sana mereka berdiri berdampingan dengan kepala tertunduk. Bayangan insinyur kepala dan istrinya, yang sepuluh kali lipat besarnya membayangi tembok bangunan itu. Bayangan itu tetap tak bergerak, bahkan anak kecil pun tidak berani mempermainkannya.
Istri penjahit tiba-tiba lari kedepan. “Orang celaka ini terlalu pendek, sehingga massa revolusioner dibelakang tidak dapat melihatnya,” teriaknya. “Aku akan segera mengaturnya.” Ia berlari ke rumahnya, hingga bahunya yang gemuk kelihatan bergerak naik turun,untuk mengambil sebuah baskom yang kemudian ditengkurapkan. Tuan Pendek berdiri di atas baskom itu. Sekarang ini sama tinggi dengan istrinya. Tetapi dalam keadaan seperti itu, tidak banyak orang yang memperhatikan perbedaan tinggi pasangan yang tengah tertimpa bencana itu.
Slogan-slogan dan tuduhan-tuduhan terus dilontarkan dengan bernafsu. Tekanan terus meningkat. Pertama-tama Nyonya Jangkung diperintahkan untuk mengaku dan menyerahkan naskah itu. Kepadanya pertanyaan dan tuduhan dilontarkan dengan jeritan histeris, teriakan amarah, serta suara menggeram dan mengancam. Tetapi ia hanya menggelengkan kepalanya, bersungguh-sungguh. Tetapi apa gunanya kesungguhan hati itu? Percaya kepadanya hanya akan membuat seluruh persoalan menjadi lelucon.
Tidak perduli para penggeretak melompat ke depan dan mengacung-acungkan kepalan atau pertanyaan-pertanyaan penuh tipu muslihat untuk memerangkapnya, ia tetap menggelengkan kepalanya. Orang-orang dari lembaga kebingungan. Mereka takut kalau hal itu berlangsung terus, pertemuan akan gagal total.
Istri penjahit mendengarkan dengan kemarahan yang memuncak, meski sebenarnya ia tidak paham isi naskah itu, karena ia buta huruf. Ia merasa para pekerja riset itu terlalu lunak bicaranya. Mendadak ia lari ke atas panggung, mengangkat tangan kanannya yang berban lengan merah, dan menudingkan telunjuknya ke arah Nyonya Jangkung.
“Katakan!” pekiknya. “Mengapa kamu kawin dengan dia?”
Orang-orang dari lembaga terperanjat oleh pertanyaan yang tak terduga-duga itu. Apa hubungan pertanyaan itu dengan pengusutan mereka?
Nyonya Jangkung juga terperanjat. Itu jelas bukan jenis pertanyaan yang harus dilontarkan pada hari-hari terakhir. Ia mendongak karena terkejut. Wajahnya yang tipis menunjukkan penderitaan yang dipendamnya selama beberapa bulan terakhir.
“Jadi kamu tidak berani jawab, ha?” kata istri penjahit sambil menaikkan nada suaranya. “Aku akan menjawabnya untukmu!Kamu kawin dengan bangsat ini karena uangnya, bukan? Kalau dia tidak punya uang, siapa mau dengan orang cebol seperti itu!” katanya dengan nada puas, seolah-olah hanya dia yang dapat menyelami jiwa Nyonya Jangkung.
Nyonya Jangkung tidak mengangguk dan juga tidak menggeleng. Ia sekarang dapat menyelami jiwa istri penjahit yang matanya berkilat-kilat penuh dengan cemoohan.
“Baik, kamu tidak mau mengakuinya. Orang celaka ini memang sudah tidak ada gunanya sekarang, sudah tidak ada harapan lagi. Oh, aku tahu apa yang sedang kamu pikirkan,” kata istri penjahit sambil menyodok dada Nyonya Jangkung dan mengacungkan tangannya dengan sombongnya. Sebagian wanita menunjukan sikap setuju.
Orang-orang dari lembaga semakin terkejut. Pertanyaan seperti itu tidak pernah terbayangkan. Hanya saja,meskipun para wanita itu telah nyasar cukup jauh dari pokok permasalahan, ternyata mereka dapat menghidupkan pertemuan. Karena itu, orang-orang dari lembaga membiarkan mereka mulai berkampanye. Para wanita itu berteriak-teriak:
“Berapa banyak dia membayar kamu? Apa saja yang telah dia belikan untuk kamu? Akui saja semuanya!”
“Dua ratus sebulan tentu cukup untuk kamu, bukan? Hingga kalian harus lari ke luar negeri!”
“Apakah Deng Tuo*) ada di belakangmu?”
Suksesnya suatu pertemuan tergantung pada semangat yang dibangkitkannya. Orang-orang dari lembaga yang mengadakan pertemuan itu melihat bahwa sekarang sudah tepat saatnya saatnya untuk meneriakkan beberapa slogan lagi, kemudian menutupnya.
Mereka kemudian menggeledah flat Nyonya Jangkung, dengan mengelupaswallpaper dan mengungkit lantai yang terbuat dari papan itu. Ketika mereka tidak berhasil menemukan apapun, mereka pun membawa pergi suaminya, dan begitu saja meninggalkan Nyonya Jangkung.
Nyonya Jangkung hari-hari berikutnya seharian hanya tinggal di dalam flat, tetapi setelah malam tiba ia keluar sendirian. Tanpa disadarinya istri penjahit terus mengamatinya dari jendela,meskipun lampu rumah yang berfungsi sebagai pintu gerbang itu mati. Ia menguntit terus sampai Nyonya Jangkung keluar dari pintu gerbang dan melewati dua persimpangan jalan, hingga akhirnya berhenti untuk mengetuk sebuah pintu dengan perlahan-lahan. Istri penjahit menyembunyikan diri di balik sebuah tiang telegraf dan menunggu, sambil menahan nafasnya seolah-olah akan menerkam seekor kelinci begitu calon mangsa keluar dari liangnnya.
Pintu berderit, terbuka. Seorang wanita tua keluar membawa seorang anak.
“Semuanya telah berlalu, bukan?” tanyanya.
Jawaban Nyonya Jangkung tidak dapat didengar.
“Ia telah makan malam dan tidur,” kata wanita tua itu. “Bawalah pulang cepat-cepat sekarang juga.”
Istri penjahit sadar bahwa itulah wanita yang menjaga anak kecil mereka. Rasanya kemenangannya lenyap ketika Nyonya Jangkung membawa pulang anak lelakinya. Suasana sunyi, hanya terdengar suara langkah-langkah kaki mereka. Istri penjahit berdiri tidak bergerak dibelakang tiang telegraf sampai mereka lenyap, untuk kemudian cepat-cepat pulang.
Pagi berikutnya, ketika Nyonya Jangkung membawa keluar anak lelakinya, matanya merah. Tidak ada orang yang berbicara dengannya, tetapi semua melihat matanya yang merah dan membengkak. Mereka yang sebelumnya mencela, memiliki perasaan bersalah yang aneh, sehingga mereka berpaling agar tidak saling bertatapan dengan Nyonya jangkung.
Setelah pertemuan penggugatan itu Tuan Pendek tidak diijinkan pulang lagi. Istri penjahit yang mengetahui hal itu, mengatakan bahwa Tuan Pendek telah dipenjarakan sebagai aktivis kontra revolusi. Hal itu menempatkan Nyonya Jangkung pada posisi yang terendah, sehingga tidak pantas untuk tinggal di flat yang luas. Ia kemudian dipaksa untuk bertukar tempat dengan istri penjahit. Hal itu tidak membuatnya cemas, karena dengan begitu berarti ia dapat menghindari hinaan penghuni lainnya. Tetapi para penghuni mengamati dari jendelanya, melihat Nyonya Jangkung sendirian saja di rumah pintu gerbang yang kecil itu. Ke mana ia mengirim anak lelakinya, mereka tidak tahu. Anak lelaki itu hanya pulang selama beberapa hari. Karena dikucilkan semua orang, Nyonya Jangkung menjadi kelihatan lebih tua dari umurnya yang baru tiga puluhan.
“Catat kata-kata saya,” kata istri penjahit. “Ia paling-paling akan mampu bertahan selama setahun. Lalu kalau Si Pendek itu tidak juga keluar dari penjara, ia pasti akan kawin lagi. Kalau saya jadi dia, saya akan minta cerai dan kawin lagi, sekalipun laki-laki itu sudah keluar dari penjara. Namanya sudah kotor, ia tidak akan mampu mencari uang sepeser pun.”
Setahun berlalu, Tuan Pendek belum juga dipulangkan, dan Nyonya Jangkung masih tetap sendiri. Tanpa bicara apapun, ia pergi bekerja, pulang ke rumah, menyalakan tungku, dan pergi keluar dengan sebuah keranjang belanjaan besar yang sudah lusuh. Itulah yang dilakukannya dari hari ke hari, sampai setahun penuh.
Pada suatu musim gugur Tuan Pendek muncul kembali, – berpakaian tipis, kepala dicukur – penampilannya berubah sama sekali. Ia tampak kuyu. Kulitnya tidak lagi nampak bercahaya. Ia langsung menuju flatnya yang lama. Penghuni yang baru, tukang jahit yang jujur itu, memberitahunya ke rumah pintu gerbang. Nyonya Jangkung sedang jongkok di pintu depan,membelah kayu bakar. Mendengar suara suaminya, ia bangkit menatap suaminya dengan tajam. Setelah perpisahan selama dua tahun, keduanya sama-sama terkejut pada perubahan pasangannya. Yang satu berkeriput, yang lain kurus dan cekung. Yang satu lebih tinggi daripada sebelumnya, yang satu justru lebih pendek. Setelah lama saling menatap, mereka cepat-cepat berpaling. Nyonya Jangkung lari masuk ke dalam. Ketika Nyonya Jangkung keluar lagi, Tuan Pendek telah membelah dua balok kayu bakar yang besar-besar menjadi serpihan-serpihan kecil, seakan takut sewaktu-waktu malapetaka baru akan menimpa mereka lagi. Sejak saat itu kembali mereka menjadi pasangan yang tak terpisahkan. Pergi bekerja bersama-sama, pulang bekerja bersama-sama, seperti semula. Karena tidak terjadi perubahan pada pasangan itu, perhatian para tetangga terhadap mereka berangsur-angsur hilang. Keduanya dianggap sepi.
Pada suatu pagi Nyonya Jangkung mendapat kecelakaan. Suaminya dengan sangat kebingungan bergegas keluar dan kembali dengan sebuah ambulans.
Selama berhari-hari rumah pintu gerbang itu kosong dan gelap pada waktu malam. Setelah tiga minggu Tuan Pendek kembali bersama orang asing. Mereka membawa Nyonya Jangkung dengan tandu.
Sejak kembali ke rumah, Nyonya Jangkung belum pernah keluar dari kamarnya. Tuan Pendek pergi bekerja seperti biasa, bergegas kembali pada malam hari untuk menyalakan tungku, dan pergi keluar dengan sebuah keranjang belanjaan yang biasa digunakan istrinya. Ditangan Tuan Pendek, keranjang itu kelihatan lebih besar dan hampir menyentuh tanah.
Ketika musim panas tiba, Nyonya Jangkung mulai tampak keluar dari kamarnya. Setelah begitu lama ada di tempat tidur, wajah nyonya jangkung menjadi seputih mayat, dan jalannya sempoyongan.Tangan kanannya memegang sebuah tongkat, sementara siku kirinya bengkok didepan dadanya. Kaki kirinya yang setengah lumpuh membuatnya sulit berjalan.Agaknya ia menderita gegar otak, yang biasanya disertai kelumpuhan. Setiap pagi dan sore, dengan susah payah serta hati-hati Tuan Pendek menolongnya berjalan keliling halaman dua kali. Dengan menekuk bahunya, ia dapat memegang lengan istrinya yang bengkok dengan kedua tangannya erat-erat. Hal itu benar-benar sulit baginya, tapi ia tetap tersenyum untuk membesarkan hati istrinya. Karena istrinya tidak dapat mengangkat kaki kirinya, maka ia mengangkatnya dengan tali untuk ditarik ke atas kalau istrinya akan melangkah. Sungguh-sungguh pemandangan yang mengharukan, sehingga para tetangga tersentuh olehnya. Sekarang, kalau mereka berjumpa dengan pasangan itu, mereka menganggukkan kepala dengan ramah.
Nasib mujur Nyonya Jangkung berakhir. Ia tidak lagi menderita sakit berkepanjangan di samping suami pendeknya yang mencintainya dengan penuh kasih sayang. Hidup dan mati sama kejamnya baginya. Sekarang kematian merenggutnya. Tuan Pendek ditinggalkan sendirian.
Setelah kematian istrinya, nasib mujur kembali ramah pada Tuan Pendek. Ia direhabilitasi, barang-barang yang disita dikembalikan, dan ia menerima kembali semua gajinya. Para tetangga mengamatinya untuk mengetahui apa yang akan dilakukan Tuan Pendek. Kata orang, sebagian rekannya telah mengusulkan agar ia mencari istri lagi, tapi ia menolak tawaran mereka.
“Saya tahu jenis wanita yang diinginkannya,” kata istri penjahit. “Serahkan saja urusan itu pada saya!”
Setelah kejayaannya pudar, istri penjahit menjadi lebih menahan diri. Setelah tidak lagi berkuasa, ia mulai memasang senyum. Dengan sebuah foto seorang gadis cantik di dalam sakunya, ia pergi ke rumah Tuan Pendek. Gadis dalam foto itu adalah kemenakannya.
Ketika akan mengusulkan perkawinan itu, sembari duduk, istri penjahit menilai perabot Tuan Pendek yang kaya.Dengan senyuman yang terus terpancang di wajahnya, ia berbicara dengan sangat bernafsu, sampai tiba-tiba disadarinya Tuan Pendek belum berkata sepatah kata pun. Wajah Tuan Pendek muram. Di belakangnya, tergantung fotonya bersama Nyonya Jangkung pada hari pernikahan mereka. Akhirnya istri penjahit memukul genderang perangnya, bukan untuk maju, tapi untuk mundur teratur. Ia tidak berani menunjukan foto kemenakannya.
Sejak itu, beberapa tahun telah berlalu. Tuan Pendek masih menduda, tetapi setiap hari Minggu ia membawa pulang anak lelakinya untuk menemaninya. Melihat bentuk badannya yang pendek dan nampak kesepian itu, para tetangga pun ingat semua apa yang yang telah dialami Tuan Pendek, bahkan mereka bisa mengerti mengapa Tuan Pendek tetap bertahan hidup sendiri.
Ketika Tuan Pendek pergi bekerja pada hari hujan, mungkin sangat tidak lazim, ia tetap memegang payungnya tinggi-tinggi. Melihat perilaku Tuan Pendek itu, orang-orang kini mendapat kesan yang langka dan berharga: ada ruang kosong yang luas di bawah payung itu, ruang hampa yang tidak dapat diisi oleh apapun yang ada di dunia ini.


Posting Komentar