Info Terbaru

Selasa, 06 Mei 2014

KALI INI, SEBUAH CERPEN

FISIPONLINE.ORG, Bandung- Berhubung kamis lalu tanggal 1 Mei bertepatan dengan Hari Buruh dan tanggal telah memerah, saya sengaja tak mengabarkan apa-apa soal kelas sastra, apakah masuk atau tidak. Saya bertanya kepada salah seorang yang ikut di kelas itu, apakah ada yang bertanya soal kelas, jawabannya ada, saya pun senang. Sebab dalam sastra yang terpenting adalah gairah. Lalu saya tanya kembali, “Berapa orang?” kemudian yang saya dengar adalah “Satu orang.”

“Hm,” saya mengerutkan dahi. Sepertinya yang sedang saya perkenalkan (baca: sastra) di kelas itu seperti memperkenalkan wujud malaikat. Sosoknya terlalu besar dan agung, sayapnya melebar dari masyrik hingga maghrib hingga tak muat di benak teman-teman yang ikut kelas ini. Saya jadi punya dugaan, bahwa yang ikut hadir hanya menginginkan seseorang pintar berbicara di depan, memaparkan, menghadirkan sastra itu sendiri dengan jelas dan terpahami. Untuk diketahui, bahwa itu tidak mudah...

Ingin mengenal sastra, sama halnya mengenal laki-laki atau perempuan, seperti halnya ingin mengenal orang asing. Kita tidak bisa melihat-lihat dan menerka-nerka, siapa orang itu, dari mana asalnya, mengapa dia bisa menarik hatimu. Harus ada perbincangan, mesti ada usaha untuk mengenalnya. Dengan mencoba menyalaminya misalnya, bertanya nama dan sebagainya, meminta nomor telfon selulernya atau mencari fesbuknya.

Begitu pun dengan sastra, jika ingin mengenal sastra, mesti ada usaha untuk mengenalnya. Saya hadir sebagai pengantar, maka bertanyalah tentang dirinya. Atau mungkin ingin langsung mengenalnya di luar kelas itu, itu lebih bagus.
     
    “Bagaimana caranya?”
     
     Menulis.
    
    “Maksudnya menulis apa?”
     
     Oh, itu pertanyaan bodoh, menulis sastra tentunya.
     Bisa puisi, kata-kata yang menurutmu itu puisi. Atau cerpen
     cerita tentang hidupmu dan cerita tentang kegelisahanmu.
    
    “Lalu?”
     
     Saya masih belum lulus, kamu bisa bertemu saya di kampus
     mari kita sama-sama kembali mengenal mahluk
     yang bernama sastra itu lewat karya yang telah kamu buat.

Jika di kelas terlalu menegangkan atau semacam terlalu sesak oleh bulu-bulu malaikat tadi, saya masih ngampus kok. Kamu bisa menemukan saya berkeliaran di gedung Student Centre (SC), di gedung FISIP, di jalan-jalan antara FISIP dan SC, fesbuk saya ada, inbok saya terbuka; kita bisa sharing di luar kelas. Komunitas-komunitas sastra juga masih bertengger di kampus ini: Forum Sastra Lilin Malam oleh teman-teman dari BSI, Forum Penulis Seluruh KPI oleh teman-teman KPI, Komunitas Sastra Kampus oleh teman-teman BSA. Kamu bisa gabung atau sekedar tukeran karya.

Materi kita selanjutnya, cerpen terjemahan dari Feng Jicai penulis Cina terkenal pada abad 20. Ia lahir di Tianjin 1942. Dulunya Feng Jicai adalah seorang atlit, namun setelah mengalami cidera ia bekerja di Chinese Traditional Painting Press. Di situlah ia mulai melukis dan menulis. Pada 1974, ia diangkat menjadi pengajar lukisan tradisional Cina di Tianjin Workers College of Decorative Art, dan terus menulis dalam waktu luangnya. Ia menjadi penulis profesional tahun 1978, dan tahun 1981 terpilih menjadi Wakil Ketua Chinese Writers’ Associaton dan Ketua Federation of Literary and Art Circles cabang Tianjin. Cerpen ini diterjemahkan oleh Ni Made Tuti Marhaeni dan diterbitkan oleh Mitra Utama, Jakarta, pada tahun 1993.

Ya, Feng Jicai bukanlah seorang penulis. Awalnya dia seorang atlit. Tapi kita tahu, kita bisa memilih menjadi apapun yang kita suka, meski Feng Jicai harus melewati cidera dahulu, meski harus melewati kesakitan dan keterpurukan baru ia menemui takdirnya: sebagai seorang cerpenis...

Oleh : Galah Denawa
Jurusan Sosiologi
Staff Ahli Bidang Olahraga dan Seni SEMA FISIP UIN SGD

Posting Komentar

 
Copyright © 2014 Senat Mahasiswa FISIP UIN SGD | Editing Design By Ivan Latifan Fadila | Thanks For OddThemes