MABOK DI BAWAH BULAN
Kupegang botol anggur di antara bunga-bunga
Minum sendirian saja, di sekitarku seorang pun tiada
Kuangkat gelasku dan kuajak bulan minum bersama
Kami bertiga: aku, bulan dan bayang-bayangku
Tapi bulan tak tahu nikmatnya anggur
Dan bayang-bayangku hanya bisa mengikuti saja
Kuanggap saja mereka berdua temanku
Saat serupa ini harus dinikmati sepuas-puasnya
Bulan sempoyongan ketika kunyanyikan beberapa lagu
Bayang-bayangku nampak kebingungan waktu ku menari-nari
Kami minum bersama selama aku sadar
Kalau sudah mabok: kami pun berpisah
Sejak kini semoga kami bertiga selalu berpesta
Semoga kami bertemu pula di Bima Sakti sana
Sapardi Djoko Damono
BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari
mengikutiku di
belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang
memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di
antara kami
yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di
antara
kami yang harus berjalan di depan
King Fabó
SEGALA SESUATU MUNCUL DARI KETIADAAN TIBA-TIBA
Aku cuma
diam terbaring,
ketika telefon
terus berdering.
Aku takut
menyentuhnya. Sunyi yang menyenangkan
sebelum musim liburan.
Zen Hae
KAIL
di danau ini, paman khidir, betapa ngeri
tuhan-tuhan sebesar jagat
berjuntaian mengailku!
Ch'on Sang-Pyong
MANUSIA PALING BAHAGIA DI BUMI
Akulah manusia paling bahagia
di bumi
Aku sudah punya isteri yang cantik
jadi tak perlulah mencari wanita lain
dan karena aku mustahil punya anak
masa depan tak perlu dicemaskan
Aku juga sudah punya rumah
hidupku benar-benar nyaman
Semenjak isteriku membuka warung kopi
aku tidak pernah cemas lagi ke mana harus pergi
Aku berniat melanjutkan studi
supaya pendidikanku sedikit lebih tinggi
Sebagai seorang penyair
bila kelak aku dikenang tentulah menyenangkan
Aku penikmat kubis
yang selalu direbuskan isteriku
Jadi untuk urusan apa lagi aku harus mengeluh
sudah beruntung aku beriman kepada Tuhan
Karena Dia yang menguasai seluruh alam semesta ini
selalu menjagaku
kuharap nasib buruk enggan menimpaku
Acep Zamzam Noor
PERTEMUAN
Karena kesepian
Kita bertemu
Kau bergayut di leherku
Karena malam
Yang mempertemukan
Kita bersatu
Aku menyusu di dadamu
O, aku yang terpisah selalu ingin pergi
Kau yang jinak, sabar dan senantiasa menanti
Ternyata bisa saling berbagi
Kini, bukan lagi soal kau rusuk
Dan aku badan
Bukan lagi soal setia dan pengkhianatan
Tetapi adalah hukum kehidupan
Bahwa dosa telah menciptakan kita:
Sepasang manusia


Posting Komentar